Media Sosial dalam Dunia Kampus dan Aktivitas Mahasiswa
Media sosial adalah sebuah media online yang memungkinkan para
penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan
suatu karya. Dewasa ini jenis media sosial yang berkembang di masyarakat
cukup banyak. Jenis-jenis media sosial yang berkembang saat ini antara
lain Facebook, Twitter, Google+, Tumblr, YouTube, Blogger, dan lain
lain. Media sosial mengusung kombinasi antara ruang lingkup elemen dunia
maya, dalam produk-produk layanan online seperti blog, forum diskusi,
chat rooms, email, website, dan juga kekuatan komunitas yang dibangun
melalui jejaring sosial (Juju, 2010:1).
 |
| Media Sosial yang amat menjamur saat ini |
Juju (2010:1) mengatakan bahwa apa yang disampaikan dalam media sosial
memberikan efek kekuatan (power) tersendiri karena basis pembangunannya
berupa teknologi dan juga berbagai media interaksi yang dikomunikasikan
dalam teks, gambar, audio, maupun video. Tambahan pula, eleman jejaring
sosial yang memang ditujukan untuk terus terkoneksi, berkomunikasi
bahkan saling berbagi (sharing).
Saat ini teknologi internet dan mobile phone (telepon genggam) semakin
maju yang mengakibatkan media sosial pun ikut tumbuh dengan pesat. Saat
ini untuk mengakses Facebook atau Twitter bisa dilakukan di mana saja
dan kapan saja dengan menggunakan sebuah mobile phone. Demikian cepatnya
orang yang mengakses media sosial mengakibatkan terjadinya fenomena
besar terhadap arus informasi tidak hanya di negara-negara maju tetapi
juga di Indonesia. Kecepatannya arus media sosial tersebut mulai
menggantikan peranan media massa konvensional dalam menyebarkan
berita-berita. Tambahan pula, tarif internet saat ini sudah sangat
terjangkau bagi mahasiswa. Perusahaan telekomunikasi berlomba-lomba
untuk menyajikan tarif internet termurah dengan layanan terbaik sehingga
sebagian besar mahasiswa sudah berlangganan internet. Internet saat ini
merupakan teknologi yang telah menjadi kebutuhan banyak orang (Setyaji,
2010:260).
 |
| Twitter menjadi idola di Indonesia |
Pengguna media sosial pun semakin hari semakin berkembang pesat. Media
sosial Facebook merupakan media sosial yang memiliki pengguna terbanyak
di dunia saat ini. Pengguna Facebook diperkirakan mencapai 250.000.000
akun. Media sosial MySpace diperkirakan memiliki pengguna sebanyak
122.000.000 akun, Twitter memiliki pengguna sebanyak 80.500.000 akun,
dan Linkedin memiliki pengguna sebanyak 50.000.000. Kartajaya (2010:45)
mengatakan bahwa Facebook ibarat sebuah negara yang memiliki banyak suku
dan etnis karena sampai saat ini Facebook telah menggunakan lima puluh
bahasa asing selain bahasa Inggris.
Juju (2010:3) mengatakan bahwa jumlah pengguna Twitter di Indonesia
mencapai 19.500.000 pengguna pada tahun 2010. Jumlah tersebut menempati
posisi kelima dunia setelah Amerika Serikat (sekitar 107.000.000
pengguna), Brasil (33.000.000 pengguna), Jepang (29.000.000 pengguna),
dan Inggris (24.000.000 pengguna).
Pengguna Facebook di Indonesia telah mencapai 43.060.000 pengguna pada
tahun 2010. Pengguna Facebook di Indonesia berasal dari golongan bawah
hingga golongan atas sedangkan pengguna Twitter di Indonesia memiliki
karakteristik khusus. Kebanyakan pengguna Twitter tersebut merupakan
golongan menengah ke atas yang cukup mandiri dalam ekonomi (Juju,
2010:3).
Kalangan remaja diketahui merupakan pengguna terbesar media sosial. Saat
ini lebih dari 50% akun di media sosial dipegang oleh kalangan remaja.
Kalangan remaja yang menggunakan media sosial terdiri dari golongan
siswa dan mahasiswa. Mahasiswa dalam hal ini memiliki peranan besar
dalam perkembangan media sosial saat ini. Hampir setiap mahasiswa
diperkirakan minimal mempunyai satu jenis akun media sosial bahkan
banyak mahasiswa yang mempunyai lebih dari sepuluh jenis akun media
sosial perorangnya. Kalau pun belum mempunyai akun, mahasiswa dengan
mudah bisa membuatnya.
Media sosial menjadi suatu kebutuhan yang vital dan penting bagi
kalangan mahasiswa. Media sosial bersifat bebas, tanpa aturan, dan tidak
terkontrol. Akibatnya, media sosial tersebut banyak disalahgunakan
terutama oleh kalangan mahasiswa. Penyalahgunaan tersebut dapat berupa
penggunaan media sosial yang merugikan diri sendiri maupun penggunaan
media sosial yang merugikan orang lain.
Sebagian besar mahasiswa sering atau pernah menggunakan media sosial
yang merugikan diri sendiri. Penggunaan media sosial yang berlebihan
hingga lupa waktu merupakan salah satu contoh penggunaan media sosial
yang merugikan diri sendiri. Akibatnya, banyak mahasiswa yang
menghabiskan waktu untuk menggunakan media sosial secara mubazir. Waktu
yang seharusnya digunakan mahasiswa untuk mengerjakan pekerjaan lain
yang lebih penting menjadi sia-sia sehingga pekerjaan-pekerjaan yang
seharusnya cepat selesai menjadi tertunda. Hal tersebut tentu menjadi
kerugian yang sangat besar bagi mahasiswa sendiri.
Mahasiswa sering menggunakan media sosial yang merugikan orang lain.
Dampak negatif media sosial tidak hanya merugikan mahasiswa sendiri
tetapi juga bisa merugikan orang lain. Kenyamanan orang lain bisa
terganggu oleh aktivitas mahasiswa melalui media sosial. Ketika
mahasiswa menggunakan media sosial berlebihan, secara tidak langsung
perbuatan tersebut bisa mengganggu kenyamanan orang lain. Di dalam media
sosial, mahasiswa otomatis terhubung dengan pengguna media sosial
lainnya. Apabila mahasiswa menggunakan media sosial secara tidak baik,
orang lain bisa terkena dampak tidak baik tersebut.
Media sosial dapat pula digunakan untuk tindak kriminal oleh kalangan
mahasiswa. Tindak kriminal yang umum terjadi di media sosial adalah
tindak penipuan. Penipuan tersebut dapat membuat korban kehilangan
harta, benda, hingga kehormatannya. Saat ini banyak ditemukan tindak
kriminal yang berawal dari media sosial dan banyak pelakunya adalah
seorang mahasiswa. Oknum mahasiswa mengincar pengguna media sosial lain
untuk dijadikan korbannya. Korban tersebut dengan berbagai cara dihasut
oleh oknum mahasiswa agar bisa dirampas harta, benda, bahkan
kehormatannya.
 |
| Kejahatan dalam Facebook |
Kasus-kasus penculikan sering bermula dari media sosial. Facebook
sebagai salah satu media sosial ternyata telah digunakan sebagai sarana
penculikan yang cukup ampuh. Beragam data diri dan foto pribadi bisa
diakses melalui situs tersebut dengan bebas sehingga sangat memudahkan
penculik untuk memilih korbannya secara langsung. Mahasiswa-mahasiswa
dari keluarga yang mampu (kaya raya) umumnya menjadi target penculikan
selain mahasiswa-mahasiswa berparas cantik dan seksi yang bisa
dieksploitasi oleh penculik tersebut (Jubilee, 2010:84).
Konflik-konflik mahasiswa di media sosial bisa berujung pada hal-hal
negatif. Mahasiswa dengan bebas bisa berhubungan dengan semua pengguna
melalui media sosial. Apabila hubungan antarpengguna tidak berjalan
baik, bisa mengakibatkan perselisihan. Media sosial yang dapat diakses
bebas oleh semua kalangan bisa menimbulkan berbagai kedengkian yang
mengakibatkan perselisihan. Perselisihan tersebut dapat berlanjut pada
pertengkaran dan akhirnya berujung pada suatu tindak kriminal, misalnya
pengancaman, penghinaan, penganiayaan, dan pembunuhan.
Media sosial seperti pisau bermata dua secara psikologis. Media sosial
dapat meningkatkan dan menurukan prestasi belajar, tergantung bagaimana
pemakaiaannya. Juju (2010:77) mengatakan bahwa bagi generasi digital,
teori six degree of separation yang melandasi perkembangan media sosial
adalah jembatan bagi mereka untuk mengumpulkan informasi
sebanyak-banyaknya dan dari siapa saja. Penggunaan media sosial yang
tanpa kendali, akan mengakibatkan mahasiswa melupakan tugas utama mereka
di bangku kuliah, dan memilih memasuki dunia virtual tanpa batas.
Terlepas dari sisi kompleksitas di atas, ternyata media sosial juga
berguna dalam proses belajar-mengajar. Fitur notes pada Facebook dapat
digunakan untuk berbagi catatan kuliah sedangkan kuliah tweet (kultwit)
pada Twitter dapat digunakan untuk menjadi pointer terhadap perkuliahan
atau pengajaran. Sebagian besar himpunan atau perkumpulan mahasiswa
telah memiliki akun Facebook dan Twitter. Akun-akun tersebut digunakan
untuk berbagi informasi yang terkait dengan kuliah dan pergerakan
mereka.
Penggunaan media sosial secara positif dan bermanfaat mutlak diterapkan
oleh kalangan mahasiswa. Penggunaan media sosial yang positif dapat
mengakibatkan hubungan yang baik antarpengguna serta berdampak positif
pula dalam kehidupan nyata. Dewasa ini banyak pula kalangan mahasiswa
yang sudah mengunakan media sosial secara positif terutama untuk
mendukung kegiatan perkuliahannya. Media sosial digunakan untuk sarana
pembelajaran mahasiswa, sarana bertukar pikiran antarmahasiswa, sarana
berdiskusi antarmahasiswa, dan sebagai forum mahasiswa secara online.
Arus informasi yang begitu cepat membuat media sosial mempunyai peranan
penting dalam penyebaran informasi saat ini. Saat ini mahasiswa tidak
perlu membaca koran yang terpajang di dinding-dinding kampus atau
susah-susah membeli kora di pedagang koran. Mahasiswa cukup mengakses
media sosial melalui internet, maka semua informasi dan berita terbaru
bisa diakses.
Setyaji (2010:262) mengatakan bahwa jumlah pengguna internet yang besar
dan semakin berkembang, telah mewujudkan budaya internet. Internet juga
mempunyai pengaruh besar terhadap ilmu dan pandangan dunia. Pengguna
internet di seluruh dunia mempunyai akses internet yang mudah atas
berbagai informasi.
Media massa elektronik pada saat ini menggunakan media sosial sebagai
ajang promosi beritanya. Setiap media massa membuat berita terbaru, maka
otomatis berita tersebut akan tersebar luas melalui media sosial. Di
sini mahasiswa mempunyai keuntungan untuk bisa mengakses berita terbaru
secara cepat bahkan selang satu detik berita tersebut diterbitkan bisa
langsung dibaca. Kemudahan mahasiswa untuk mengakses berbagai informasi
dan berita melalui media sosial diharapkan bisa menambah wawasan dan
ilmu pengetahuan bagi mahasiswa itu sendiri.
Berbagai artikel atau makalah yang dibagikan melalui media sosial dapat
menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa. Mahasiswa tidak perlu susah
payah pergi ke perpustakaan, membeli buku, memfotokopi buku, atau
meminjam buku. Mahasiswa dapat mengakses materi perkuliahan melalui
media sosial secara tepat. Banyak pula dosen yang sudah menerapkan
pembelajaran melalui media sosial. Dosen tersebut membagikan
materi-materi perkuliahan melalui media sosial kepada mahasiswanya
sehingga mahasiswa dengan mudah dapat mengakses dan mempelajarinya.
Dosen dengan mudah bisa ditemui atau diakses oleh mahasiswa melalui
media sosial. Jubilee (2010:66) mengatakan bahwa ada kecenderungan
mahasiswa enggan untuk datang menemui dosen pada jam kerja. Oleh sebab
itu, dosen bisa mengefektifkan jam kerja online baik pada jam kerja atau
di luar jam kerja. Dosen bisa memanfaatkan hashtag Twitter selama jam
kerja atau membuat thread diskusi di Facebook. Ini akan meningkatkan
keterlibatan mahasiswa dan informasi yang dipublikasikan bisa diikuti
oleh seluruh mahasiswa.
Dosen bisa membuat grup atau halaman (page) di Facebook untuk setiap
mata kuliah. Halaman (page) di Facebook di mana para mahasiswa bisa
melakukan Like bisa menjadi one-stop information hub yang memungkinkan
interaksi antara dosen dan mahasiswa. Halaman di Facebook ini digunakan
untuk update tugas kuliah, membuat kelompok diskusi virtual, atau
sekadar menginformasikan suatu perubahan di kelas. Dosen cukup
menugaskan mahasiswa untuk mengunggah tulisan yang berkaitan dengan isi
perkuliahan dan dilanjutkan dengan diskusi di kelas.
Mahasiswa dapat membangun jaringan dengan para profesional karena proses
pembelajaran tidak bisa seratus persen dipenuhi dari aktivitas di
kelas. Dosen bisa merancang tugas yang meminta mereka untuk mencari dan
mengidentifikasi kontak para profesional melalui media sosial kemudian
meminta mahasiswa untuk membangun kontak dengan orang-orang tersebut.
Saat ini, relatif sulit bagi para wisudawan untuk mendapatkan pekerjaan
tanpa jaringan atau koneksi. Untuk itu, sejak awal para mahasiswa perlu
berinteraksi secara intensif dengan orang-orang di bidang yang mereka
tekuni.
Jubilee (2010:67) mengatakan bahwa media sosial bisa digunakan untuk
menyebarkan informasi (materi kuliah atau hyperlink) atau bahkan
menjadikannya media pembelajaran kolaboratif. Agar efektif, media sosial
perlu menjadi bagian integral dari kurikulum di kelas yang
diperhitungkan sebagai bagian dari nilai akhir perkuliahan. Hal tersebut
penting untuk mendapatkan perhatian maksimal dari mahasiswa. Dengan
demikian, perkuliahan atau pembelajaran di kelas makin dinamis,
interaktif, dan menantang bagi mahasiswa dengan didukung penggunaan
media sosial.
Darma (2009:223) mengatakan bahwa menjalin hubungan persabahatan bisa
juga dilakukan di dunia maya (internet) seperti halnya di dunia nyata.
Bedanya, hubungan di dunia maya tidak bisa bertatap muka secara langsung
dengan seseorang yang bersangkutan. Tentu saja, etika ketika mengajak
berkenalan harus dijaga. Proses untuk menjalin hubungan di dunia maya
(internet) disebut social networking (jejaring sosial).
Berbicara dengan baik dan benar perlu diterapkan di media sosial selain
diterapkan di dunia nyata. Budaya berbicara yang santun harusnya tidak
hanya terjadi saat tatap muka tetapi juga melalui perangkat elektronik
di dunia maya. Hubungan mahasiswa dengan orang lain akan menjadi sulit
jika mahasiswa tersebut tidak santun dalam berbicara. Mahasiswa dapat
memengaruhi orang lain dengan berbicara. Penipuan, kebohongan,
kekeliruan, dan bicara kasar membuat hubungan mahasiswa dengan orang
lain menjadi buruk. Seperti yang Buddhisme tunjukkan (dalam Kartajaya,
2010:53), ucapan benar berarti mengatakan kebenaran, memikirkan
kepentingan orang lain, dan berbicara dengan rasa yang baik dan santun.
Berbicara yang benar bukan hanya untuk perbincangan tatap muka,
melainkan juga di ruang publik, seperti media sosial. Jika pikiran dan
hati tidak menuntun seseorang untuk santun berbicara, integritas dan
hubungannya dengan sesama akan hancur.
Mahasiswa dapat berkomunikasi antarmahasiswa lain melalui media sosial.
Diskusi yang umumnya dilakukan secara langsung pada waktu dan tempat
yang bersamaan saat ini sudah mulai beranjak menjadi diskusi secara
online. Diskusi secara online tidak perlu mempertemukan
mahasiswa-mahasiswa secara langsung pada waktu dan tempat yang sama.
Mahasiswa yang berada di Bantul bisa dengan mudah berdiskusi dengan
mahasiswa yang berada di Jakarta tanpa adanya suatu hambatan.
Diskusi-diskusi tersebut tentu sangat bermanfaat bagi mahasiswa dengan
syarat tema yang didiskusikan juga positif. Komunikasi dua arah
antarmahasiwa juga bisa dengan cepat dilakukan melalui media sosial.
Media sosial membuat arus komunikasi antarmahasiswa saat ini selalu
hidup dan tidak putus. Komunikasi antarmahasiswa yang selalu hidup
mempunyai dampak manfaat yang sangat besar antarmahasiswa tersebut.
Media sosial menjadi sarana yang cukup efektif dalam menyampaikan
informasi. Sifat yang wordlwide pada media soial menjadi keunggulan
tersendiri dalam penyebaran informasi. Mahasiswa dapat membuat tulisan
tentang pengumuman atau terkait perkuliahan yang bisa dibaca oleh
mahasiswa lain khususnya mahasiswa yang sejurusan. Mahasiswa lain yang
memiliki akun serupa dapat mengakses informasi tersebut sehingga
koordinasi dan komunikasi antarmahasiswa bisa lancar. Namun yang perlu
ditekankan adalah efektivitas penyampaian informasi melalui media sosial
hanya akan terasa pada mahasiswa yang rutin melakukan akses ke akun
media sosial tersebut.
Darma (2009:153) mengatakan bahwa seseorang bisa mempublikasikan tulisan
dan karyanya melalui media sosial di internet. Media sosial memiliki
peran sebagai penyalur kretivitas, hobi, dan ekspresi dari pengguna.
Karya yang terpublikasikan di media sosial melalui internet otomatis
dapat diakses oleh pengguna media sosial yang lain.
 |
| Jangkauan yang sangat luas |
Media sosial bisa diakses oleh publik. Apa saja yang diunggah di media
sosial bisa diakses oleh khalayak luas, dengan demikian karya-karya
mahasiswa tidak hanya dibaca atau dinilai oleh dosen tetapi juga dibaca,
dinilai, dan dikritisi oleh khalayak luas (peer and public review).
Media sosial bersifat interaktif sehingga pembaca atau user bisa
memberikan komentar atau bahkan menyebarluaskan ke komunitas terbatas
atau publik yang lebih luas.
Media sosial menjadi sarana untuk berkarya dan berkreasi bagi mahasiswa.
Mahasiswa yang memiliki kreativitas dapat membagikan karyanya melalui
media sosial. Karya yang dibagikan di media sosial secara tidak langsung
sudah menyebar ke segala penjuru dunia. Apabila karya tersebut diakses
oleh banyak orang dari berbagai belahan dunia, mahasiswa tersebut akan
merasa bangga dan semakin memompa semangat mahasiswa tersebut untuk
terus berkarya. Karya-karya yang dibagikan oleh mahasiswa diharapkan
bisa berguna dan bermanfaat bagi orang lain serta kemajuan bangsa ini.
DAMPAK MEDIA SOSIAL TERHADAP
KALANGAN REMAJA DAN MASYARAKAT
Seperti yang kita ketahui di zaman sekarang ini, media sosial sangat
dekat dan pesat dalam kehidupan kita. Dari kalangan anak-anak, remaja
bahkan menyeluruh sampai orang dewasa. Contohnya banyak dikalangan
remaja menggunakan facebook, twitter, dan lain-lain. Media sosial juga
dapat membantu kehidupan kita.Selain memberikan dampak positif, media
sosial juga memberikan dampak negatif.
Dampak positif dari media sosial antara lain :
~ Membantu mempermudah dalam mencari atau menyelesaikan suatu tugas
~ Dapat menambah wawasan yang luas
~ Dapat membantu kita menjadi orang yang mengerti teknologi
~ Dapat mengikuti kemajuan teknologi
Dampak negatif dari media sosial antara lain :
~ Anak-anak, remaja, pelajar dapat dengan mudah terpengaruh oleh media sosial
~ Menurunnya semangat belajar
~ Anak-anak, remaja, pelajar dapat dengan mudah mengakses vidio-vidio porno atau pornografi
~
Seseorang dapat dengan mudah melakukan penculikan dengan memanfaatkan
media sosial tersebut. Dengan cara berkenalan dri dunia maya.
~ Banyaknya penipuan
http://endahrositaa.blogspot.com/2013/11/dampak-media-sosial-di-kalangan-remaja.html